DAERAHPEMERINTAHANPRABUMULIH

Suasana Haru Sambut Kedatangan 196 Jemaah Haji Prabumulih: Doa yang Dikabulkan, Rindu yang Terbayar

PRABUMULIH – Halaman Masjid Jami’ Islamic Center Kota Prabumulih berubah menjadi panggung haru dan syukur. Tepat pukul 22.00 WIB, sebanyak 196 jemaah haji asal Prabumulih tiba di tanah kelahiran mereka, disambut ratusan anggota keluarga yang telah menanti sejak petang, serta jajaran Pemerintah Kota. Lima unit bus pengangkut jemaah berhenti satu per satu di halaman masjid, dan dari dalamnya, wajah-wajah lelah namun bahagia mulai bermunculan.

Bukan sekadar seremoni kepulangan, malam itu menjadi simbol penyatuan antara kerinduan, iman, dan ketulusan yang tak bisa diukur oleh kata-kata. Air mata tumpah bukan karena duka, melainkan karena rindu yang akhirnya menemukan pelabuhannya.

Wali Kota Prabumulih, H. Arlan, yang hadir langsung bersama istri tercinta Hj. Linda Arlan, Sekretaris Daerah H. Elman S.T., M.M., serta jajaran Forkopimda, turut membaur di tengah kerumunan keluarga yang menyambut. Tidak ada protokol yang membatasi kehangatan malam itu semua menjadi satu dalam pelukan dan tangisan syukur.

“Selamat datang para tamu Allah yang kini telah menyandang gelar Haji dan Hajjah. Semoga ibadah yang telah dijalankan menjadi mabrur dan membawa berkah untuk semua,” ucap Wali Kota Arlan, dengan suara lirih yang menggema di bawah langit Prabumulih,pada Jum’at malam (04/07/25)

Baca Juga :   Upaya Pemerintah Kota Prabumulih Membangun Kolam Retensi untuk Pengendalian Banjir dan Taman Wisata

Ia menambahkan, kepulangan ini bukan hanya tentang fisik yang kembali dari perjalanan panjang, melainkan kemenangan spiritual. “Bagi kami, ini adalah malam yang sangat spesial. Bukan hanya karena warga kami pulang dalam keadaan sehat, tetapi karena ini menjadi bukti kekuatan niat dan doa,” ujarnya, seraya menatap para jemaah yang satu per satu memeluk anggota keluarganya.

Di antara kerumunan, seorang anak perempuan tampak menangis sambil memeluk erat ibunya yang baru saja turun dari bus. Di sudut lain, seorang lansia sujud mencium tanah, mengucap syukur karena telah menyelesaikan rukun Islam kelima dan kembali ke tanah air dengan selamat. Pemandangan ini berulang dalam berbagai bentuk, namun semuanya bermuara pada satu rasa: keharuan yang mendalam.

Sebagian warga yang hadir malam itu mengatakan bahwa mereka sudah tiba di lokasi sejak sore hari. Beberapa membawa bunga, beberapa membawa air zam-zam dari tanah suci, dan sebagian lainnya hanya membawa tangan terbuka — untuk memeluk, menggenggam, dan mencium orang-orang tersayang yang telah menjalankan ibadah haji.

Baca Juga :   Linda Apriana Arlan Dilantik Jadi Dewan Kehormatan PMI Kota Prabumulih

Salah satu jemaah, Drs. Aris Priadi, S.H., M.Si, yang juga menjabat sebagai Asisten I Setda Kota Prabumulih, membagikan sedikit pengalamannya kepada awak media.

“Kami benar-benar merasakan kekuatan doa. Dari keberangkatan, proses ibadah, hingga kembali ke sini — semua dimudahkan. Tak ada kendala berarti. Kami diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah,” ujarnya dengan mata berbinar.

Ia juga menekankan bahwa ibadah haji bukan hanya ritual fisik, melainkan perjalanan jiwa. “Yang paling membekas bukan hanya saat wukuf di Arafah, tapi ketika kita benar-benar merasa kecil di hadapan Allah. Semua status, semua gelar, semua perbedaan lenyap. Yang tersisa hanyalah manusia dan Tuhannya,” imbuhnya.

Pemerintah Kota Prabumulih melalui Dinas Perhubungan dan Kementerian Agama setempat telah menyiapkan kepulangan para jemaah dengan matang. Lima unit bus telah disiapkan untuk mengantar para jemaah dari bandara hingga ke Islamic Center, dan selanjutnya ke rumah masing-masing. Selain itu, posko kesehatan pun turut disiagakan untuk memastikan tidak ada jemaah yang mengalami gangguan kesehatan selama perjalanan pulang.

Baca Juga :   WALIKOTA PRABUMULIH H.ARLAN TANAM POHON DAN BAGI BIBIT PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 2026

“Kami pastikan fasilitas dan pelayanan terbaik untuk kepulangan ini. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Kami bersyukur tidak ada jemaah yang mengalami kendala kesehatan serius selama di Tanah Suci,” ujar Sekda Elman kepada wartawan.

Malam itu, Masjid Jami’ Islamic Center bukan sekadar titik temu fisik, tetapi juga spiritual. Sebuah tempat di mana doa-doa digantungkan, di mana air mata menjadi bahasa yang paling jujur. Di balik pelukan-pelukan itu, ada janji-janji yang terucap dalam hati: untuk hidup lebih baik, lebih taat, dan lebih bersyukur.

“Semoga kelak kami bisa kembali ke Baitullah. Entah bersama keluarga, atau sebagai doa yang dikabulkan dalam bentuk lain,” bisik seorang jemaah wanita yang baru saja memeluk cucunya.

Pulang dari Tanah Suci bukanlah akhir, melainkan awal dari lembaran baru kehidupan — yang lebih bersih, lebih damai, dan lebih dekat dengan Sang Pencipta.(adv/009)