Srikandi Bengkel di Markas Militer, Kisah Caca, Satu-satunya Perempuan di Kelas Mesin Motor PLCLP 2026 Yonzipur 2
PRABUMULIH – Deru mesin sepeda motor saling bersahutan, memecah kesunyian di dalam kompleks militer Batalyon Zeni Tempur 2/Samara Grawira (Yonzipur 2/SG), Prabumulih. Di bawah terik matahari dan atmosfer barak yang disiplin, puluhan pemuda tampak sibuk membongkar mesin transmisi dengan peluh yang bercucuran.
Namun, jika jeli melihat ke salah satu sudut meja kerja di antara barisan seragam latihan, ada pemandangan yang memikat perhatian. Seorang gadis muda dengan hijab rapi tampak begitu fokus. Jemarinya yang lentik tak canggung menggenggam kunci pas, belepotan oli hitam, seraya cekatan menyetel celah katup silinder motor bebek di hadapannya.
Ia adalah Muflihati Zakia, atau yang akrab dipanggil Caca.
Gadis berusia 20 tahun ini menjadi magnet perhatian sepanjang pelaksanaan Pendidikan Karakter dan Pelatihan Pertamina Local Community Leaders Program (PLCLP) yang digelar oleh Pertamina Hulu Rokan Zona 4. Pelatihan semi-militer yang berlangsung selama 16 hari, mulai dari tanggal 1 hingga 16 Juli 2026 ini, terasa kian menantang karena Caca adalah satu-satunya perempuan yang nekat mengambil kelas Mesin Motor.
Memilih Yonzipur 2/SG sebagai lokasi pelatihan tentu bukan tanpa alasan. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 ingin 100 pemuda-pemudi terbaik dari wilayah sekitar operasional ini tidak hanya memiliki keahlian teknis (hard skills), tetapi juga mental baja, kedisiplinan tinggi, dan karakter kepemimpinan yang ditempa langsung oleh para instruktur TNI.
Dari total 100 peserta, dominasi laki-laki sangat mutlak, yakni mencapai 92 orang. Sementara, peserta perempuan hanya berjumlah 8 orang saja. Pelatihan ini sendiri dipecah menjadi lima kelas keahlian spesifik.
Rigger (Juru Ikat Beban), Service AC, Mesin Motor, K3 atau P3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja / Pertolongan Pertama), dan Media.
Jika tujuh peserta perempuan lainnya tersebar di kelas Servis AC atau K3, Caca justru memilih jalur ekstrem yang biasanya didominasi pria,kelas Mesin Motor. Bertahan di tengah lingkungan markas tentara yang tegas dan dikelilingi puluhan pria di kelas mekanik menjadi ujian mental tersendiri bagi anak bungsu dari tiga bersaudara ini.
”Banyak yang heran waktu saya pilih kelas ini, bahkan teman-teman peserta lain awalnya canggung. Ditambah lagi latihannya di Yonzipur 2 yang disiplinnya luar biasa. Tapi bagi saya, ini tantangan. Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil menghidupkan kembali mesin yang tadinya mati,” ujar Caca sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang ternoda pelumas.(14/7/2026)
Saat ditanya mengenai alasannya mendaftar kelas yang sarat dengan kerja fisik berat ini, Caca membeberkan dua alasan utama yang sangat jujur sekaligus visioner.
Alasan pertama rupanya lahir dari keresahan personal yang sering dialami oleh kaum perempuan ketika berhadapan dengan urusan otomotif di jalanan.
”Jujur saja, pertama karena saya tidak mau mudah dibohongi orang lain saat sedang memperbaiki motor di bengkel luar. Sering sekali kalau perempuan yang bawa motor ke bengkel, langsung dibilang ‘wah ini rusak, itu rusak’ padahal mungkin kerusakannya sepele. Saya ingin punya pengetahuan itu supaya tidak bisa disepelekan,” papar Caca dengan nada tegas.
Alasan kedua adalah tentang menangkap peluang ekonomi di tanah kelahirannya. Caca menyadari betul potensi wilayah Prabumulih. Sebagai kota dengan mobilitas tinggi, volume kendaraan roda dua di Prabumulih tumbuh sangat masif setiap tahunnya. Motor telah menjadi urat nadi transportasi warga.
”Pengguna sepeda motor di Prabumulih ini sangat banyak sekali. Jadi kalau bicara peluang usaha, jasanya sudah pasti jelas dicari orang terus. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa tangguh, mandiri, dan tidak kalah lincah saat harus membongkar pasang blok mesin,” tambah gadis yang kini genap berusia 20 tahun tersebut.
Digembleng di Markas Yonzipur 2/SG memberikan Caca perspektif baru tentang pentingnya strategi dan visi masa depan. Ia tidak hanya ingin berakhir menjadi montir biasa yang menunggu pelanggan di bengkel lokal konvensional. Caca memiliki mimpi yang jauh melampaui zamannya.
Setelah menyelesaikan program PLCLP ini, Caca berencana merintis bisnis modern yang memadukan teknologi dan keahlian barunya. Toko Suku Cadang Digital.
”Rencana saya setelah lulus dari sini adalah mengombinasikan jasa mekanik fisik konvensional dengan penjualan onderdil (sparepart) secara daring (e-commerce). Jadi nanti pelanggan tidak cuma bisa servis di tempat, tapi juga bisa pesan suku cadang lewat platform digital yang saya sendiri,” jelas Caca optimis.
Konsep bisnis hibrida ini dinilai sangat potensial di era digitalisasi sekarang, mengingat transisi perilaku konsumen yang serba digital namun tetap membutuhkan eksekusi fisik untuk pemasangan komponen kendaraan.
Program PLCLP Pertamina Hulu Rokan Zona 4 sejatinya memang dirancang untuk melahirkan local heroes, para pemimpin komunitas lokal yang mandiri secara ekonomi dan mampu membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Kehadiran Caca di kelas Mesin Motor, yang berjuang melewati kerasnya tempaan fisik dan mental di Yonzipur 2 Samara Grawira, menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Pertamina tidak mengenal sekat gender. Keberaniannya diharapkan mampu menginspirasi perempuan-perempuan muda lainnya di Prabumulih untuk berani keluar dari zona nyaman dan mendobrak stigma.
Ketika pelatihan ini resmi berakhir pada 16 Juli 2026, Caca tidak hanya melangkah keluar dari gerbang kesatrian Yonzipur 2 membawa sertifikat. Ia pulang membawa mentalitas prajurit yang disiplin, jemari yang terampil, dan sebuah mimpi besar tentang bengkel digital yang siap ia wujudkan demi kemandirian finansialnya.(M Amin)
