Kisah Perempuan Lubuk Raman,Menganyam Bambu dan Membatik Ramah Lingkungan Bersama PHR Zona 4
Muara Enim, Lubuk Raman – Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim. Kabut tipis khas Sumatra Selatan masih menggelayut di antara dahan-dahan pohon karet yang berjejer rapat. Di sebuah sudut desa, aroma rebusan daun, kulit kayu, dan lilin malam yang pekat mulai menyeruak, mengalahkan bau embun pagi.

Di dalam sebuah bangunan bersahaja yang kini dikenal sebagai Rumah Kreatif Boek Khaman, seorang wanita berusia 41 tahun tampak begitu khusyuk. Tangannya yang legam namun terampil memegang sebilah canting. Dengan napas yang diatur perlahan, ia meniup ujung canting sebelum menggoreskannya ke atas selembar kain katun putih yang membentang di atas gawangan.
Wanita itu adalah Ibu Ira. Di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan mendukung suaminya yang bekerja keras sebagai petani karet, Bu Ira telah menemukan ruang baru untuk mengaktualisasikan diri. Ia menjadi bagian dari gerakan ekonomi kreatif yang mengedepankan prinsip eco-culture sustainability di tingkat lokal melalui selembar kain bernama Batik Khaman.
Bagi masyarakat Desa Lubuk Raman, tanah yang mereka pijak bukan sekadar hamparan perkebunan. Desa ini berdiri di atas fondasi sejarah yang kuat, yang konon didirikan oleh nenek moyang mereka yang dikenal dengan sebutan Empat Gandaria. Nilai-nilai ketangguhan, persatuan, dan kearifan dalam menjaga alam yang diwariskan oleh para leluhur inilah yang menjadi ruh bagi gerakan kebudayaan baru di desa tersebut.
Setelah sekian lama identitas lokal itu tersembunyi di balik rimbunnya pohon karet, pada tahun 2021, para pemuda-pemudi Karang Taruna Desa Lubuk Raman memutuskan untuk bergerak. Dipantik oleh keinginan kuat untuk membangkitkan kembali marwah tanah kelahiran, mereka mendirikan Rumah Kreatif Boek Khaman.
Nama “Khaman” sengaja disematkan sebagai representasi dari Lubuk Raman. Kegiatan pertama yang mereka gagas adalah Rumah Batik Khaman, sebuah ikhtiar untuk melahirkan ikon budaya baru, sekaligus menghidupkan kembali spirit perjuangan Empat Gandaria dalam konteks modern.
Apa yang dimulai sebagai proyek eksperimental pemuda desa, kini telah bertransformasi menjadi sebuah unit usaha sosial yang terstruktur. Di bawah kepemimpinan Etika Oktasari, selaku Ketua Rumah Kreasi Batik Khaman, wadah ini berkembang menjadi motor penggerak ekonomi perempuan desa.
Etika berhasil merajut sinergi lintas generasi. Saat ini, Rumah Batik Khaman dikembangkan dan dikelola secara tekun oleh 11 orang anggota aktif yang terdiri dari kelompok ibu-ibu rumah tangga dan remaja perempuan desa.

Ketua rumah kreasi batik khaman Etika Oktasari
”Kami ingin membuktikan bahwa perempuan desa mampu mandiri secara ekonomi tanpa harus mencabut akar budayanya sendiri. Melalui Batik Khaman, kami memadukan energi kreatif remaja perempuan dengan ketekunan luar biasa dari ibu-ibu,” ungkap Etika Oktasari.(10/7/2026)
Kolaborasi ini melahirkan pembagian peran yang rapi. Para remaja perempuan di bawah arahan Etika berfokus pada manajemen, desain motif modern, dan pemasaran digital. Sementara ibu-ibu seperti Bu Ira menjadi pilar utama dalam proses produksi, menorehkan malam demi malam dengan penuh kesabaran.
Bagi Bu Ira, bergabung dengan Rumah Batik Khaman adalah sebuah lompatan keberanian. Selama puluhan tahun hidupnya, ritme harian Bu Ira diatur oleh komoditas karet. Suaminya adalah seorang petani karet sejati, yang setiap subuh buta harus pergi ke kebun, membawa pisau sadap, dan berharap cemas pada harga getah yang kerap naik-turun tak menentu di pasar.
Menjadi istri petani karet menuntut ketahanan mental yang tinggi. Ketika cuaca buruk atau musim trek (gugur daun) tiba, pohon karet tidak bisa disadap, dan pendapatan keluarga seketika merosot. Kehadiran Rumah Kreatif Boek Khaman menjadi oase bagi Bu Ira untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Memulai sesuatu yang baru di usia kepala empat tentu bukan perkara mudah. Jari-jemari Bu Ira yang terbiasa dengan pekerjaan domestik yang berat awalnya terasa kaku saat harus memegang canting. Lilin malam yang panas tak jarang menetes di kulitnya. Namun, melihat kegigihan Etika Oktasari dan remaja perempuan lainnya yang telaten mendampingi, Bu Ira menolak menyerah. Perlahan tapi pasti, goresan cantingnya berubah menjadi garis-garis motif yang tegas, rapi, dan bernilai seni tinggi.
Di tengah menjamurnya industri tekstil yang kerap menggunakan pewarna kimia instan, Rumah Batik Khaman memilih jalur yang berbeda. Mereka fokus pada pelestarian budaya membatik yang ramah lingkungan melalui pewarna alami.
Bahan-bahan pewarna diekstrak langsung dari kekayaan alam di sekitar Desa Lubuk Raman, seperti daun mangga, kulit jengkol, daun ketapang, hingga kayu secang. Warna-warna bumi (earth tone) yang dihasilkan memberikan karakter eksklusif pada setiap kain Batik Khaman.
Langkah idealis ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Sebagai mitra binaan, Rumah Batik Khaman mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta fasilitas sarana prasarana untuk meningkatkan skala produksi tanpa merusak ekosistem.
Salah satu wujud nyata dari kolaborasi ini adalah pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL) batik terintegrasi. Cairan sisa pewarnaan dan proses pelorodan (pelarutan lilin) tidak dibuang ke lingkungan, melainkan dialirkan melalui serangkaian bak filterisasi alami yang memanfaatkan pasir, kerikil, arang aktif, dan tanaman air pengendap zat hara.
Inovasi lingkungan di Rumah Kreatif Boek Khaman tidak berhenti di kain batik. Di sudut desa yang sama, kelestarian ekosistem ini diperkuat oleh kehadiran Khuas Buloh, sebuah kelompok pengrajin yang digerakkan oleh 12 orang ibu-ibu kreatif desa. Kelompok ini lahir untuk memanfaatkan potensi vegetasi bambu yang tumbuh melimpah di sepanjang aliran tanah Desa Lubuk Raman.
Di bawah naungan Rumah Kreatif Boek Khaman, ibu-ibu Khuas Buloh mengolah rumpun-rumpun bambu hijau menjadi berbagai produk anyaman bernilai jual tinggi, mulai dari keranjang belanja serbaguna hingga kemasan (packaging) estetik yang digunakan untuk membungkus produk kain Batik Khaman.

Sejak tahun 2025, Khuas Buloh melakukan lompatan teknologi yang revolusioner. Mereka menerapkan teknologi pirolisis bambu, sebuah proses pembakaran biomassa tanpa oksigen untuk mengubah limbah dan potongan bambu sisa anyaman menjadi biochar arang bambu.
Biochar ini memegang peran ganda yang sangat krusial dalam rantai ekonomi sirkular desa.
Sebagian biochar dibagikan kepada warga dan petani untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah perkebunan lokal.
Sebagian biochar arang bambu lainnya diintegrasikan langsung ke dalam sistem filterisasi constructed wetland pada instalasi pengolahan air limbah (SPAL) milik Rumah Batik Khaman. Arang bambu bertindak sebagai penyerap (adsorben) alami yang sangat efektif mengikat sisa-sisa zat hara dan partikel mikro limbah batik.
Seluruh hasil kerajinan anyaman dan produk turunan Khuas Buloh kini dipasarkan satu pintu di Rumah Kreatif Boek Khaman. Kehadiran mereka mengubah wajah desa dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi episentrum ekonomi sirkular yang aktif menekan limbah seminimal mungkin sekaligus mendongkrak nilai tambah sumber daya lokal.

Tantangan terbesar yang dihadapi Etika Oktasari dan seluruh anggota saat ini adalah mengedukasi pasar mengenai nilai dari produk kerajinan tangan yang membutuhkan proses rumit. Namun, dengan memanfaatkan pemasaran satu pintu di Rumah Kreatif dan kekuatan narasi lingkungan, produk kolaborasi Batik Khaman dan Khuas Buloh perlahan mulai dikenal luas oleh instansi pemerintah dan kolektor nasional.
Matahari kini sudah meninggi di atas Desa Lubuk Raman. Bu Ira meletakkan cantingnya dengan hati-hati di atas wadah kuningan, sementara dari kejauhan terdengar ketukan ritmis bilah-bilah bambu yang sedang diraut oleh ibu-ibu Khuas Buloh.
Kisah dari Rumah Kreatif Boek Khaman adalah bukti nyata bagaimana sebuah desa mampu bangkit secara mandiri. Lewat sinergi para pemuda Karang Taruna, kepemimpinan Etika Oktasari, ketekunan ibu-ibu pembatik seperti Bu Ira, kreativitas anyaman Khuas Buloh, serta dukungan strategis dari PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, spirit leluhur Empat Gandaria kini mewujud kembali bukan dalam bentuk senjata, melainkan dalam ekosistem hijau yang merawat bumi dan menyejahterakan warga secara berkelanjutan. ( M Amin)
